Kabupaten Malang, Malangrayanews.com – Limbah kulit kopi di Desa Sumbertempur, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau pupuk alami.
Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru Universitas Muhammadiyah Malang mengembangkan inovasi pengolahan kulit kopi melalui program CascaLoop.
Program bertajuk Workshop Inovasi “Katalis Kopi” digelar pada Rabu (16/09) di Aula Balai Desa Sumbertempur.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program yang berlangsung sejak pertengahan Juli hingga Agustus 2026 dengan mengusung slogan From Coffee Waste to Purposeful Products.
Tim dibimbing oleh Dosen pengampu Maharani Putri Kumalasani, M.Pd.
Sementara itu, Koordinator Tim Fakhintan Ilza Karengga menjelaskan bahwa program diawali dengan observasi lapangan pada pertengahan Juli untuk mengidentifikasi persoalan limbah kulit kopi.
Pada akhir Juli, tim menyusun dan menyerahkan proposal kepada pemerintah desa.
“Awalnya kami melakukan observasi untuk melihat persoalan limbah kulit kopi di Desa Sumbertempur. Dari situ kami menemukan bahwa pemanfaatannya masih terbatas sebagai pakan ternak dan pupuk. Karena itu, kami mencoba mengolahnya menjadi beberapa produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” ujarnya, Kamis (8/10/2026)
Lebih lanjut, selama Agustus tim melakukan percobaan untuk mengembangkan empat produk utama yakni biobriket, pengharum ruangan, kerupuk, dan teh cascara.
Untuk produk biobriket, kulit kopi disangrai melalui proses karbonisasi hingga berubah menjadi arang kemudian dihaluskan dan dicampur dengan larutan tepung kanji sebagai perekat.
Campuran tersebut selanjutnya dipadatkan menggunakan cetakan dan dijemur hingga kering.

Adapun parfum ruangan berbasis cascara dibuat dengan merendam bubuk kulit kopi dalam alkohol khusus parfum menggunakan botol berwarna gelap.
Setelah proses ekstraksi, cairan disaring dan dicampur dengan fixative serta air suling kemudian didiamkan melalui tahap pematangan agar aroma lebih menyatu.
Pembuatan tepung kulit kopi untuk kripik diawali dengan membersihkan kulit kopi kemudian mengeringkannya menggunakan oven atau disangrai dengan api kecil hingga kadar airnya berkurang.
Kulit kopi yang telah kering selanjutnya dihaluskan dan diayak sampai menghasilkan tepung bertekstur halus.
Tepung tersebut dapat diolah menjadi kerupuk dengan mencampurkannya bersama tepung terigu dan tepung kanji serta bumbu berupa bawang putih, garam, gula, penyedap rasa, dan sedikit soda kue.
Adonan kemudian diuleni hingga merata, dibentuk memanjang menggunakan plastik, lalu dikukus sampai padat.
Setelah dingin, adonan diiris tipis dan dijemur hingga benar-benar kering sebelum digoreng hingga mengembang dan renyah.
Sementara itu, teh celup cascara dibuat dengan memanfaatkan kulit kopi yang telah dibersihkan dan dikeringkan secara optimal.
Kulit kopi kering kemudian dipotong atau disesuaikan ukurannya agar mudah diseduh sebelum dimasukkan ke dalam kantong teh celup berbahan ramah lingkungan dan dikemas.
Selain itu, Kepala Desa Sumbertempur Edi Sucipto menyambut baik inovasi tersebut.
Menurutnya, pengolahan kulit kopi sejalan dengan upaya desa menangani persoalan limbah sekaligus membuka peluang pengembangan produk lokal.
“Selama ini kulit kopi memang lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau pupuk. Melalui kegiatan ini, kami mendapat wawasan bahwa limbah tersebut masih bisa diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” pungkasnya. (Eco)





