Kabupaten Malang, malangrayanews.com – Ratusan pustakawan dari berbagai daerah berkumpul di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu, 4 November 2026.
Mereka membahas risiko kecerdasan buatan (AI) dalam penulisan karya ilmiah, termasuk kemunculan referensi fiktif atau phantom references.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Ahmad Najib Burhani, M.A., M.Sc., Ph.D., menyoroti risiko tersebut.
Ia memaparkan, dari 3.703 paper yang ditelaah pada 2025, sebanyak 692 paper menggunakan referensi palsu hasil manipulasi AI.
Najib juga menyebut Indonesia memiliki 16.780 jurnal nasional terakreditasi. Namun, hanya 262 jurnal atau sekitar 1,5 persen yang mencapai peringkat Sinta 1.
Ketua Umum Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI), Mariyah, S.Sos., M.Hum., menilai profesi pustakawan perlu bertransformasi.
Menurutnya, pustakawan harus memperkuat kemampuan verifikasi informasi untuk mencegah penyebaran karya ilmiah bodong.
“Pustakawan tidak lagi hanya berperan sebagai penjaga dokumen, tetapi juga harus bertransformasi sebagai navigator pengetahuan, kurator data, dan penjaga literasi AI,” tegasnya yang hadir dalam jaringan.
Mariyah juga mengapresiasi UMM sebagai tuan rumah konferensi. Ia menilai fasilitas representatif, termasuk Rayz UMM Hotel berbintang empat, menunjang penyelenggaraan kegiatan.
UMM Kembangkan Layanan Perpustakaan
Sementara itu, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., mendukung adaptasi perpustakaan terhadap perkembangan teknologi.
Ia mengatakan perpustakaan perlu berinovasi agar tetap relevan bagi mahasiswa. UMM menyediakan ruang belajar nyaman yang dapat diakses selama 24 jam.
Fasilitas tersebut mendukung integrasi layanan fisik dan digital untuk menyesuaikan kebutuhan belajar mahasiswa.
Para peserta membahas tantangan AI dan masa depan perpustakaan dalam Konferensi Internasional Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (KPPTI) ke-5.
Konferensi berlangsung di Ballroom Rayz UMM Hotel dengan tema “The Role Shift in Academic Librarianship as AI Moves Forward: Technology Integration, Competency Upskilling, and Institutional Adaptability”.
Kegiatan ini mempertemukan 300 peserta dari 29 wilayah Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke.
Melalui kolaborasi tersebut, penyelenggara berharap perpustakaan perguruan tinggi tetap relevan dan menjaga integritas riset di era digital. (Eco)





