Kabupaten Malang, Malangrayanews.com – LSO Surya Team Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Juara 1 Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XXI 2026. Tim tersebut unggul pada kategori Jembatan Model Rangka Baja Berskala melalui rancangan ringan dan efisien.
Kompetisi berlangsung pada 18–22 Oktober 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyelenggarakan KJI XXI melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa).
Persaingan Ketat Antarperguruan Tinggi
KJI XXI 2026 mempertemukan 34 tim dengan total 76 mahasiswa dari 18 perguruan tinggi. Sebanyak 18 tim melaju ke babak final, terdiri atas delapan tim kategori Jembatan Rangka Baja Berskala dan sepuluh tim kategori Jembatan Model Pelengkung.
Surya Team UMM mengirimkan tiga mahasiswa Program Studi Teknik Sipil. Mereka terdiri atas Alfita Kayasa A.S. angkatan 2024, serta Danilla Shava Claudya dan Muhammad Fariz Irfani angkatan 2023.
Dalam merancang jembatan, tim mengutamakan efisiensi bobot struktur dan ketepatan lendutan. Alfita menjelaskan, tim mengembangkan desain melalui perhitungan agar jembatan mampu menahan beban dengan bobot seringan mungkin.
“Kami ingin menghasilkan jembatan yang ringan tanpa mengabaikan kekuatan strukturnya,” ujarnya.
Inovasi dan Efisiensi Perakitan
Selanjutnya, tim menghadapi sejumlah tahapan penilaian dalam kompetisi tersebut. Panduan lomba menetapkan bobot proposal 20 persen, presentasi 15 persen, dan pelaksanaan 65 persen.
Pada tahap pelaksanaan, juri menilai hasil akhir sekaligus proses pembuatan jembatan. Aspek penilaian mencakup metode perakitan, waktu pengerjaan, keselamatan kerja, estetika, inovasi, dan kemampuan menahan beban.
Untuk memenuhi kriteria tersebut, Surya Team menjalani latihan perakitan secara intensif di UMM. Tim mencatat waktu perakitan sekitar 20 menit 30 detik selama latihan.
Selain itu, tim mengembangkan sejumlah inovasi untuk mendukung kinerja jembatan. Inovasi tersebut mencakup penggunaan sensor, pemanfaatan sisa material sebagai perancah (scaffolding), dan beton GGBS pada lantai jembatan.
Tim juga mengusung konsep panel surya untuk penerangan. Berbagai inovasi tersebut mendukung tema kompetisi tentang kinerja optimum, ramah lingkungan, dan kearifan lokal.
“Selain memperhitungkan berat dan lendutan, kami juga menyiapkan metode konstruksi melalui latihan berulang agar proses perakitan berjalan lebih efektif,” imbuh Alfita.
Dosen Pembimbing Apresiasi Kerja Tim
Dosen pembimbing Surya Team UMM, Alfin Suprayugo, S.T., M.Sc., Ph.D., mengapresiasi kerja sama dan proses pengembangan desain. Menurutnya, mahasiswa menghubungkan perhitungan perangkat lunak dengan proses manufaktur dan perbaikan berdasarkan kendala nyata.
“Desain jembatan Tim UMM kali ini merupakan jembatan teringan dan termasuk dalam perakitan tercepat dari delapan tim yang bertanding,” tegasnya.
Sementara itu, UMM mendukung persiapan hingga keberangkatan tim menuju kompetisi. Dukungan tersebut turut menunjang partisipasi mahasiswa dalam ajang ketekniksipilan tingkat nasional.
Prestasi ini menunjukkan peran kompetisi dalam mengasah kemampuan teknis, kerja sama, dan pemecahan masalah mahasiswa. UMM berharap Surya Team terus mengembangkan inovasi dan meraih prestasi pada kompetisi berikutnya. (Eco)





