Sorong, Malangrayanews.com – Kelangkaan minyak tanah dan keterbatasan akses bahan bakar memasak masih menjadi persoalan mendesak bagi rumah tangga maupun pelaku UMKM di wilayah Sorong, Papua Barat Daya. Menjawab tantangan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Transmigrasi 2 Universitas Brawijaya (UB) memperkenalkan inovasi kompor biomassa — teknologi tepat guna yang membuka peluang sumber energi alternatif berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Ekspedisi Patriot yang diinisiasi oleh Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. Tim UB dipimpin oleh Dr. Ir. Anang Lastriyanto, M.Si., dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB), bersama anggota Istifar Yogi Prayogi, M. Amin Muzaki, Rebecca G Tampubolon, Vanya Paramitha Prihsatuhu, dan Maghfirah Rhamadani.
Berdasarkan pemetaan kebutuhan di lapangan, pelaku UMKM menghabiskan 15–30 liter minyak tanah per periode produksi. Sementara itu, UMKM Keripik Aria mengeluarkan biaya hingga Rp1,2 juta per truk kayu bakar. Angka tersebut menunjukkan tingginya biaya dan ketergantungan terhadap bahan bakar konvensional, sehingga alternatif yang lebih efisien sangat dibutuhkan.
Kompor biomassa yang diperkenalkan memanfaatkan bahan bakar yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti kayu kering, serbuk kayu, batok kelapa, dan arang. Inovasi ini diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat saat Pameran UMKM Nusantara di Alun-Alun Kota Aimas, Kabupaten Sorong, pada 21–22 Agustus 2026, lengkap dengan demonstrasi cara penggunaannya.

Pengenalan teknologi ini mendapat antusiasme luar biasa dari masyarakat, pelaku UMKM, hingga pemerintah daerah.
“Di Sorong itu adalah kota minyak, tapi kadang kita sulit mendapatkan BBM minyak tanah. Kompor biomassa ini mantap sekali, cocok untuk digunakan oleh UMKM maupun rumah tangga. Ini kita menggunakan listrik dan juga bisa diatur kecepatannya atau nyalanya, maksimum maupun minimum,” ujar Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Sorong, Sutardjo Pongluturan, Sabtu (22/8/2026).
“Saya berterima kasih kepada Universitas Brawijaya yang hadir memberikan materi sekaligus praktik langsung dengan kompor yang tidak menggunakan gas dan minyak tanah. Bahan dasar dari arang dan kayu bekas, bisa diatur sendiri, dan hanya butuh listrik langsung nyala. Bagi saya JOS sekali, LUAR BIASA. Kadang kita berkelahi karena minyak tanah tidak ada dan gas habis, apalagi gas itu mahal. Universitas Brawijaya number one,” ungkap Ketua Umum Asosiasi Nusantara UMKM Provinsi Papua Barat Daya, Jhony Weinand Dawan.
Pelaku UMKM Sambal Roa, Ny. Julike, juga menyambut baik inovasi tersebut.
“Pengadaan kompor ini bagi saya itu sangat baik dan sangat bagus. Saya percaya ini akan sangat membantu masyarakat berpenghasilan rendah. Saya salut, kembali ke masa lalu memakai arang tapi dengan teknologi yang lebih baik. Semoga segera diluncurkan,” katanya.
Sementara itu, Ny. Aria dari UMKM Keripik Aria berharap teknologi ini dapat dikembangkan untuk skala produksi yang lebih besar.“Minyak mahal dan susah dicari, kompor ini solusi tepat. Minyak yang saya butuhkan sekali masak bisa 20 liter, belum maksimal. Jadi saya minta yang skala besar untuk produksi yang lebih maksimal,” ungkapnya.
Tim Ekspedisi Patriot 2 UB mencatat respons positif tersebut sebagai bukti kebutuhan nyata masyarakat terhadap alternatif bahan bakar yang mandiri dan berkelanjutan. Kegiatan selanjutnya akan ditindaklanjuti melalui sosialisasi di wilayah transmigrasi Distrik Klamono, Distrik Klasafet, dan Distrik Malabotom.
Melalui inovasi ini, diharapkan kompor biomassa dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara luas, terutama di wilayah transmigrasi Klamono Segun, untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya lokal sebagai sumber energi yang mandiri dan berkelanjutan.(Eco)






