Kabupaten Malang, Malangrayanews.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mendorong inovasi mahasiswa untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA), Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Peternakan (BEM FPP) UMM mengembangkan teknologi smart farming bagi petani kopi di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang pada Juni hingga Oktober 2026.
Program bertajuk “Smart Multifunctional Fermentor dengan Sistem Karbonasi Terkontrol untuk Meningkatkan Mutu dan Nilai Tambah Kopi Petani di Desa Klampok” tersebut berangkat dari keterbatasan fasilitas pengolahan pascapanen di Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Klampok Lestari.
Moh. Amir Muktar, mahasiswa Peternakan UMM angkatan 2023 sekaligus Ketua Pelaksana, mengatakan timnya melakukan survei dan Focus Group Discussion (FGD) bersama para petani. Hasilnya, keterbatasan fasilitas dan teknologi membuat petani masih menjual buah kopi segar kepada pengepul dengan harga sekitar Rp15.000 per kilogram untuk robusta dan Rp20.000 per kilogram untuk arabika.
“Para petani menyadari bahwa posisi tawar mereka sangat lemah karena terpaksa menjual buah kopi segar ke pengepul dengan harga yang relatif murah. Mereka sangat ingin melakukan pengolahan pascapanen sendiri untuk menaikkan harga jual,” jelas Amir.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim BEM FPP UMM menghadirkan Smart Multifunctional Fermentor dengan sistem karbonasi terkontrol melalui injeksi gas CO2 untuk menciptakan kondisi anaerob. Alat ini dilengkapi sensor suhu dan pH sehingga proses fermentasi dapat dipantau dan dikendalikan secara lebih konsisten.
Teknologi tersebut memungkinkan petani mengolah kopi melalui sejumlah metode, mulai dari natural an-aerob, honey an-aerob, hingga carbonic maceration. Pengolahan pascapanen ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas green bean sekaligus membuka peluang nilai jual yang lebih tinggi.
“Keunggulan teknologi ini nantinya dapat membantu menjawab persoalan mutu kopi yang belum konsisten. Melalui metode carbonic maceration, kopi yang dihasilkan berpotensi mencapai cupping score di atas 80 dengan harga jual yang berpotensi mencapai Rp350.000 per kilogram,” tambahnya.
Menariknya, program ini tidak hanya berfokus pada pembuatan alat. Mahasiswa juga memberikan pelatihan, pendampingan teknis, evaluasi, hingga penguatan kelembagaan agar kelompok tani mampu mengoperasikan dan mengembangkan teknologi secara mandiri. Program tersebut turut menggandeng Koperasi Wonokerto Rahayu sebagai mitra dalam jalur pemasaran.
Sementar itu, Dosen pendamping, Afifa Husna, S.TP., M.TP., M.Sc., menilai program tersebut memberikan pengalaman sekaligus dampak bagi mahasiswa dan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya belajar merancang solusi, tetapi juga terlibat dalam manajemen program, public speaking, dan keterampilan teknis di lapangan.
“Ini berdampak sangat nyata, baik bagi mahasiswa tim pelaksana maupun masyarakat desa. Mahasiswa bisa langsung terjun ke masyarakat untuk memberikan solusi terhadap masalah yang benar-benar terjadi,” ungkapnya.
Ia juga berharap, pendampingan terhadap Desa Klampok akan terus diarahkan pada pengembangan potensi lokal. Menurutnya, desa tersebut memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dapat dikembangkan lebih luas, dengan komoditas kopi tetap menjadi salah satu fokus penguatan ekonomi masyarakat.(Eco)





