Pakar UMM Beri Tips Selamatkan Portofolio Saham

Pakar UMM Beri Tips Selamatkan Portofolio Saham
Dr Muhammad Jihadi Soroti Panic Selling Dan Ancaman MSCI.

Kabupaten Malang, Malangrayanews.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah mengalami tren penurunan signifikan hingga menyentuh level 4.900. Dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Muhammad Jihadi, M.Si., menyoroti akar permasalahan lesunya pasar modal domestik berasal dari sentimen negatif internasional.

Selanjutnya, Jihadi menjelaskan pelemahan drastis pasar modal belakangan ini dipicu oleh temuan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Temuan itu terkait ketidaksesuaian struktur kepemilikan saham publik atau free float di Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Penyebab utamanya adalah ketidakpercayaan pengindeks internasional. MSCI menemukan bahwa batas free float lima persen di pasar kita nyatanya hanya dikuasai oleh pihak-pihak tertentu yang terafiliasi dengan emiten besar. Akibatnya, MSCI mengancam akan mencabut indeks Indonesia dan menurunkannya ke kelas Frontier atau Standalone, setara dengan Zimbabwe dan Palestina,” jelasnya 19 Oktober pada Humas UMM.

Kemudian, ancaman penurunan level tersebut menciptakan kepanikan pasar yang memicu penarikan dana asing (capital outflow) secara besar-besaran. Dana yang keluar mencapai angka Rp132 triliun.

Lebih lanjut, kondisi ini kian diperparah oleh fenomena panic selling dari investor ritel domestik. Mereka melepas saham tanpa mempertimbangkan harga sehingga saham blue chip seperti BCA, Telkom, dan BRI menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB).

Sementara itu, ia memproyeksikan bahwa IHSG masih memiliki ruang koreksi yang cukup dalam. Mayoritas investor dominan bersikap wait and see atau hit and run.

Pakar UMM Beri Tips Selamatkan Portofolio Saham
Dr Muhammad Jihadi Soroti Panic Selling Dan Ancaman MSCI.

“Saat ini mayoritas investor dominan bersikap wait and see atau hit and run. Ada prediksi indeks bisa terus merosot hingga di bawah level 4.000. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri sebenarnya telah membuat simulasi stress test di angka 4.200 pada beberapa bulan lalu,” tambahnya.

Selain itu, terkait langkah yang harus diambil oleh para investor ritel dengan portofolio memerah, ia menyarankan agar tidak mengambil keputusan gegabah. Bagi investor dengan dana terbatas, langkah paling rasional adalah menahan (hold) saham yang dimiliki.

Ia juga memperingatkan agar tidak terburu-buru melakukan averaging down. Jika investor memutuskan mengambil opsi cut loss, dana tersebut sebaiknya dialihkan ke instrumen yang lebih aman seperti pasar uang atau obligasi ritel seperti ORI dan SBR.

Di sisi lain, anjloknya pasar modal akan membawa efek domino ke sektor riil. Beralihnya dana investasi memicu pelemahan nilai tukar rupiah yang berdampak pada kelangkaan BBM, lonjakan biaya transportasi, hingga naiknya harga komoditas pangan.

Sebagai penutup, akademisi UMM ini mendesak pemerintah dan otoritas pasar modal untuk segera membenahi tata kelola bursa.

“Pemerintah harus serius melakukan negosiasi dengan MSCI yang pengumuman resminya masih wait and see hingga Juni 2027. Selain itu, aturan ketat terkait kepemilikan free float harus ditegakkan agar tidak ada lagi praktik manipulasi pasar dan insider trading yang dibiarkan,” pungkasnya. (Eco)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *