Kota Batu, Malangrayanews.com – Harga cabai rawit di tingkat petani kembali mengalami kenaikan cukup signifikan. Setelah sebelumnya sempat anjlok hingga di bawah Rp20 ribu per kilogram, kini harga cabai rawit telah menembus sekitar Rp50 ribu per kilogram.jum’at( 11/09/26).
Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah terbatasnya pasokan cabai rawit. Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah lahan pertanian yang mengandalkan tadah hujan mulai tidak produktif karena keterbatasan ketersediaan air.
Kondisi ini membuat produksi cabai rawit dari sejumlah wilayah mengalami penurunan. Sementara itu, tanaman cabai yang masih bertahan dan produktif menjadi sumber pasokan di tengah meningkatnya harga.
Petani cabai di wilayah persawahan Metro, Kelurahan Sisir, Kota Batu, Agus Sutrisno, mengatakan kenaikan harga cabai saat ini cukup menguntungkan bagi petani yang tanamannya masih memasuki masa panen.
“Sekarang harga cabai sekitar Rp50 ribu per kilogram. Sebelumnya sempat turun sampai di bawah Rp20 ribu. Jadi untuk petani yang tanamannya masih produktif, kenaikan harga ini tentu cukup membantu,” ujar Agus.
Menurutnya, musim kemarau memang berdampak terhadap ketersediaan lahan untuk budidaya cabai, khususnya lahan yang mengandalkan air hujan. Namun, bagi tanaman cabai yang berada di lahan dengan sumber air mencukupi, kondisi kemarau justru relatif lebih menguntungkan dari sisi perawatan.
Agus menjelaskan, saat musim kemarau serangan penyakit pada tanaman cabai cenderung lebih sedikit dibandingkan musim penghujan. Petani hanya perlu mewaspadai sejumlah hama, salah satunya lalat buah yang masih dapat dikendalikan dengan penanganan dan perawatan secara rutin.

“Kalau musim kemarau sebenarnya biaya perawatan bisa lebih rendah karena penyakit tidak terlalu banyak. Yang perlu diantisipasi biasanya lalat buah, tetapi masih bisa ditanggulangi,” jelasnya.
Meski harga cabai saat ini memberikan keuntungan lebih bagi petani, kondisi tersebut juga perlu diimbangi dengan menjaga produktivitas tanaman. Sebab, apabila musim kemarau berlangsung panjang dan semakin banyak lahan tidak dapat ditanami, pasokan cabai rawit berpotensi semakin terbatas.
Bagi petani yang masih memiliki tanaman produktif, kenaikan harga cabai rawit menjadi momentum untuk memperoleh hasil yang lebih baik setelah sebelumnya harus menghadapi rendahnya harga komoditas tersebut.(Eco)





