Kota Malang, Malangrayanews.com –Sebanyak 150 jenis satwa menyemarakkan kegiatan Prana Satwa Brawijaya 2026. Kegiatan berlangsung di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya Malang pada Sabtu.
Selain itu, satwa yang hadir meliputi ayam hias, ayam serama, merpati hias, kucing, hingga satwa eksotis. Ketua Panitia Prana Satwa Brawijaya 2026 Dr. Asri Nurul Huda, S.Pt., M.P., M.Sc. menjelaskan kegiatan tersebut.
Kegiatan menggandeng enam asosiasi satwa nasional. Asosiasi tersebut antara lain Asosiasi Pecinta Ayam Hias, Indonesia Fancy Pigeon Community, Serama Malang Lovers, Indonesian Cat Association, Himpunan Ayam Pelung Indonesia, serta komunitas Malang Glow Exotic.
“Pada hari pertama pelaksanaan berfokus pada kontes kucing yang diikuti sekitar 85 pendaftar. Sedangkan hari kedua, kompetisi difokuskan pada ayam dan merpati hias dengan estimasi peserta mencapai 500 pendaftar. Khusus kategori merpati hias, terdapat 44 kategori perlombaan,” ujar Asri.
Lebih lanjut, ajang ini menampilkan ragam satwa eksotis. Satwa tersebut meliputi kura-kura, musang, burung hantu, hingga berbagai jenis reptil.
Pameran satwa eksotis berfungsi sebagai media edukasi. Masyarakat mendapat sesi penanganan awal pada gigitan ular.
Para pemenang kontes berhak mendapatkan Piala Rektor UB serta sertifikat resmi. Ajang ini menarik antusiasme peserta luar daerah.
Salah satu peternak asal Kediri, Arifin dari Nayra Farm Kediri, membawa koleksi satwa unik. Ia memamerkan ayam hias Onagadori asal Jepang yang memiliki bulu ekor panjang.
Ia juga membawa enam ekor ayam hias lainnya serta 70 ekor burung dara. Koleksi tersebut memeriahkan kontes.
Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya Widodo membuka acara secara resmi. Rangkaian pembukaan diwarnai aksi makan telur bersama sebagai kampanye gizi.
Prof. Widodo menekankan pentingnya wadah edukasi seperti Prana Satwa Brawijaya. Kegiatan mengenalkan keanekaragaman hayati satwa di Indonesia.
Berdasarkan data teknologi kecerdasan buatan, terdapat lebih dari 1.600 jenis ayam di dunia. Sebanyak 60 jenis di antaranya berasal dari Indonesia.

“Jika tidak ada kegiatan seperti ini, masyarakat mungkin tidak menyadari betapa kayanya keberagaman hayati dan variasi genetik kita. Jika kita eksplorasi dan kelola dengan baik, keanekaragaman genetik ini dapat dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat, baik untuk kecukupan gizi maupun pengembangan medis,” kata Prof. Widodo.
Ia menambahkan, pelestarian satwa memiliki dampak ganda. Kegiatan mendukung konservasi kekayaan alam sekaligus menggerakkan roda ekonomi.
Melalui pemeliharaan satwa hias, peluang wirausaha baru terbuka lebar. Generasi muda dapat membangun start-up di bidang peternakan dan satwa.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi strategis. Fapet UB, PT Charoen Pokphand Indonesia, dan PT CP Petindo bekerja sama.
Regional Head of East Java PT Charoen Pokphand Indonesia Benyamin Limi mengapresiasi kerja sama tersebut. Perusahaan menyediakan pakan khusus unggas hias berprobiotik sejak dua tahun lalu.
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan UB Prof. M. Halim Natsir menegaskan kolaborasi ini menyatukan empat pilar. Pilar tersebut meliputi akademisi, industri, asosiasi peternak, dan media.
Sinergi tersebut memajukan pengelolaan plasma nutfah nasional. Kolaborasi juga meningkatkan mutu lulusan agar selaras dengan kebutuhan industri.
“Salah satu wujud konkretnya berupa hibah fasilitas Teaching Farm berteknologi closed house serta riset kolaborasi pengembangan pakan aditif untuk menghasilkan telur kaya Omega-3 di FAST UB,” katanya. (Eco)





